Pola Curah Hujan Indonesia Berlangsung Sejak 10,000 Tahun Lalu

Studi ini memungkinkan rekonstruksi perubahan curah hujan masa lalu dengan mengukur komposisi isotop hidrogen yang stabil di tempat berkembangnya tanaman lilin terestrial, karena curah hujan merupakan sumber utama hidrogen yang tersimpan dalam bahan tanaman. Metode memperluas cakupan temporal relatif singkat pada pengukuran secara langsung data iklim masa lalu.
Dengan berakhirnya Zaman Es Akhir, kenaikan suhu dan pencairan lapisan es kutub yang disertai dengan peningkatan curah hujan di seluruh Indonesia dan banyak daerah lain di dunia. Sebaliknya, tanaman lilin di barat laut Sumatera mengungkapkan jumlah curah hujan yang tinggi selama kedua Zaman Es Akhir dan Holocene. Curah hujan selama 24,000 tahun terakhir tampaknya terkait dengan tingkat Paparan Sunda, dan khususnya dalam topografi tertentu didaerah tepi barat bukan hanya untuk perubahan kondisi iklim Deglacial.

Berdasarkan penelitian sebelumnya, diasumsikan bahwa seluruh wilayah pantai barat Indonesia jauh lebih kering selama Zaman Es Akhir dibandingkan dengan yang terjadi saat ini.

Meskipun studi ini membahas perubahan jangka panjang dalam intensitas pola curah hujan tidak selalu ‘buatan manusia’, tidak berarti anomali cuaca saat ini di negara-negara Samudera Hindia tidak terpengaruh ulah manusia. Wilayah Samudra Hindia merupakan kawasan pemukiman dan kondisi iklim masa depan mungkin bisa memacu konflik. Studi ini menyempurnakan fenomena iklim dan mekanisme yang mendasari pola curah hujan didaerah ini.
This entry was posted in Science. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s